Selasa, 21 Juni 2016

Ya Imamal `Alamin

Ya Imamal ‘Alamin

Saimon melihat Markesot bersila, wajahnya menunduk, mulutnya tertutup, napasnya semakin lama semakin tak terlihat melalui gerakan bergelombang dari dalam dada dan perutnya.
Saimon tersenyum. Markesot sudah tidak berada di situ. Sudah pergi entah ke mana. Sudah tidak berada di jasadnya yang bersila. Sudah keluar dari dinding kasat-indra tanpa merobeknya.
Markesot sedang berpuasa dari jasadnya. Meletakkan pancaindranya dalam diam, dan memasuki keheningan. Keheningan tidak berada di hutan, di tepi sungai, di bawah pohon. Juga tidak bisa ditampung oleh wadag-nya.
Nun di angkasa sangat jauh, menggelombang suara pepujian yang menyapakan cinta dan kemesraan.
Shalawat dan salam kepadamu, wahai Duta Agung Sang Pencipta. Cinta dan kesetiaan kepadamu, wahai Penyebar Kabar Gembira ke seluruh alam semesta
Nun di angkasa amat jauh. Yang mripat materiil manusia tak sanggup menjangkaunya. Apalagi mengukur jaraknya. Karena pada walayah itu bukan jarak namanya, pun bukan jarak sebagaimana yang dipahami oleh benda.
Tak ada pendaran udara atau sapuan angin yang membawa suara itu sehingga mungkin bisa didengar di bawah pohon tepian hutan dan sungai itu. Saimon pun tak bisa mendengarnya, namun ia dengan saksama mendengarkannya.
Taburan kabar gembira ke seluruh alam semesta. Merasuki hamparan tanah di seluruh permukaan Bumi. Menjadi benih. Bersemai menjadi tetumbuhan, tetanaman, pepohonan. Pendaran cinta yang menikahi Bumi hingga ke kedalamannya. Galih-galih unggulannya melingkar dan menyatu dengan khatulistiwa.
Tanah, air, udara, kayu, logam, satuan-satuan, persenyawaan, komposisi, ramuan, racikan, gabungan, harmoni, keseimbangan, putaran daurah, dan semua detail ciptaan, menyatu dalam siklus siang malam kebersamaan, mengolah kehamilan rahmat jika malam, dan kelopak-kelopaknya merekahkan sunnah-Nya sepanjang siang.
Matahari mengayominya dengan kehangatan yang terukur. Rembulan menyelimutinya dengan kesenyapan yang bermuatan cinta. Cahaya dan kegelapan bergiliran dan bekerja sama mengasuh Bumi beserta semua penghuninya.
Terimalah cintaku wahai Panglima Perjuangan, berkenanlah atas kesetiaanku wahai Penolong Kebenaran
Perjuangan untuk menjaga mizan, membangun penyeimbangan dan keseimbangan dalam hal apapun saja. Perjuangan untuk tidak mentidakkan apapun. Untuk tidak membuang apapun dari segala jenis makhluk-Nya. Karena Allah sudah memastikan secara kokoh bahwa Ia menciptakan apa saja kecuali kesia-siaan.
Maka makhluk-Nya Ia dorong, Ia tarik, Ia giring untuk mengembarai kebenaran di semua semestanya, agar menemukan kesadaran dan ketakjuban untuk men-tasbih-iNya dan mengucapkan “Wahai Allah, sungguh tak ada yang sia-sia ini semua Engkau ciptakan”.
Tak ada buangan. Tak ada sampah. Tak ada sisa. Tak ada apapun yang bathil. Tak ada mubadzir. Tak ada yang diciptakan oleh-Nya tersingkir. Segalanya diletakkan oleh Allah dalam Gelembung Daur raksasa, yang luasnya tak terukur oleh amat sedikitnya ilmu manusia.
Semua makhluk-Nya berputar mengikuti duriyah Daur itu. Bergerak dan digerakkan secara amat lembut. Menari gembira dengan dan di dalam gerakan yang sedemikian halusnya sehingga tak terasa. Semua, siapa dan apa saja, yang telah ridla, bergabung di dalam tarian itu, mengalami percepatan yang amat lamban, dan perlambanan yang sangat cepat.
Mereka tidak disifati oleh lambat atau cepat, mereka tidak berada dalam jauh atau dekat. Karena lambat dan cepat, serta jauh dan dekat, adalah bagian dari tarian cinta yang mereka terayun-ayun bagai mimpi di dalamnya.
Bertasbih kepada-Nya semua yang di Langit maupun yang di Bumi”.
Sungguh Ia Maha Perkasa, Maha Akurat dan Maha Presisi.
Wahai siapa gerangan di antara manusia yang memecah-mecah kebenaran. Yang mewujudkan pecahan-pecahan itu menjadi padatan baru, yang dipertentangkan dengan padatan-padatan yang lain, padahal sebenarnya ia berasal dari satu keutuhan kebenaran?
Wahai siapa itu beberapa golongan manusia yang melukai hati Tuhan dengan membanting tempayan agung Cinta sehingga terkeping-keping? Kemudian kepingan mereka benturkan melawan kepingan yang lain. Pecahan mereka adu dengan pecahan yang lain. Serpihan dipertengkarkan dengan serpihan yang lain? Wahai siapa itu beberapa golongan di antara manusia yang mencederai kesetiaan di dalam satu-nya kebersamaan semesta?
Terimalah cintaku wahai Panglima Perjuangan, berkenanlah atas kesetiaanku wahai Penolong Kebenaran
Wahai Baginda Muhammad tolonglah kebenaran yang sedang terluka parah di Bumi. Bersama Jibril Baginda melintas-lintas di angkasa sangat tinggi. Ronda di seantero galaksi-galaksi. Mengayun-ayunkan langkah demi langkah cahaya. Kain jubah Baginda berkibar-kibar menyentuh planet-planet dan satelit.
Dan menangis bahagialah setiap yang disentuh oleh jubah Baginda. Wahai perkenankan jiwa rindu hamba terbang mengejar ujung paling belakang jubah Baginda. Tidak terutama untuk mencapai kegembiraan hati hamba pribadi, melainkan untuk menyentuhkan tangis airmata dan peluh darah, yang mengucur dari luka-luka kebenaran di Bumi yang hamba huni.
“Wahai Baginda yang bersama Jibril Al-Muhaimin diperjalankan melintasi jagat raya pada bagian yang paling indah dari segala keindahan
Wahai Baginda yang kanugrahan kawruh dan tuntunan, yang semua manusia hanya mampu tidur tatkala jejak kawruh itu melintasi wilayah mereka
Wahai Baginda yang berdiri menegakkan sembahyang, dan seluruh penduduk Langit bermakmum berbaris bershaf-shaf di belakang Baginda
Wahai Baginda Imam Sembahyang yang tiada tara, wahai Baginda pemuka Sujud yang keindahannya menghanguskan semua kata, wahai Baginda Sang Panglima, wahai Imamal ‘Alamin….” https://caknun.com/

Kerinduan Rumi

Puisi-puisi "Kasih"••Jalaluddin Rumi••



1

Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi, Aku bukanlah orang Majusi, dan Aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Sehingga kita dapat bertemu pada “Suatu Ruang Murni” tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah.

2

Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai. Di dalam keindahan-Mu aku belajar menulis puisi. Kau senantiasa menari di dalam hatiku, meski tak seorang pun melihat-Mu, dan terkadang aku pun ikut menari bersama-Mu. Dan “ Penglihatan Agung” inilah yang menjadi inti dari seniku.

3

Hakikat Yang Maha Pengasih hadir secara langsung laksana sinar matahari yang menerangi bumi. Namun, kasih-Nya tidaklah berasal dari berbagai bentuk yang ada di bumi. Kasih-Nya melampaui setiap bentuk yang ada di bumi, sebab bumi ini dan segala isinya tercipta sebagai perwujudan dari kasih-Nya.

4

Jika kau ingin melihat wajah-Nya, maka tengoklah pada wajah sahabatmu tercinta.

5

Sekian lama aku berteriak memanggil nama-Mu sambil terus-menerus mengetuk pintu rumah-Mu. Ketika pintu itu terbuka, aku pun terhenyak dan mulai menyadari sesungguhnya selama ini aku telah mengetuk pintu dari dalam rumahku sendiri.

6

Demi Allah, ketika kau melihat Jatidirimu sebagai Yang Maha Indah, maka kau pun akan menyembah dirimu sendiri.

7

Di mana saja kau berada, apa pun keadaanmu, cobalah selalu menjadi seorang pecinta yang senantiasa dimabuk oleh kasih-Nya. Sekali kau dikuasai oleh kasih-Nya, maka kau akan hidup menjadi seorang pecinta yang hidup bagaikan dalam pusara. Dan kau akan tetap hidup hingga hari kebangkitan itu tiba, lantas kau pun akan dibawa ke dalam surga dan hidup kekal selamanya. Namun, jika kau belum menjadi seorang pecinta, maka pada hari pembalasan seluruh pahalamu tidak akan dihitung.

8

Pada Hari Kebangkitan, orang-orang akan berjalan sempoyongan. Di depan-Mu, mereka akan menggigil dengan wajah pucat karena ketakutan. Maka, aku akan memeluk kasih-Mu dan berkata kepada mereka: “Mintalah apa pun; mintalah atas namaku.”

9

Ketika aku mati sebagai manusia, maka para malaikat akan datang dan mengajakku terbang ke langit tertinggi. Dan ketika aku mati sebagai malaikat, maka siapa yang akan mendatangiku? Kau tak akan pernah dapat membayangkannya!

10

Hari ini, seperti hari lainnya, kita terjaga dengan perasaan hampa dan ketakutan. Namun, janganlah tergesa melarikan diri dari kenyataan pahit ini dengan pergi berdoa atau membaca kitab suci. Lepaskan semua tindakan mekanis yang berasal ketaksadaran diri. Biarkan keindahan Sang Kekasih menjelma dalam setiap tindakan kita. Ada beratus jalan untuk berlutut dan bersujud kepada-Nya.

11

Diamlah! Cinta adalah sebutir permata yang tak bisa kaulemparkan sembarangan seperti sebutir batu.

12

“Mintalah sesuatu kepada-Ku,” begitu Kau berkata suatu ketika. Aku tertawa dan berkata: “Aku telah cukup bersama-Mu. Tanpa kehadiran-Mu, seluruh dunia ini hanyalah sebatang kayu yang mengapung dan terombang-ambing di samudera-Mu.”

13

Yakinlah, di Jalan-Cinta itu: Tuhan akan selalu bersama-Mu.

14

Tak ada pilihan lain bagi jiwa, selain untuk mengasihi. Namun, pertama kali jiwa harus merangkak dan merayap di antara kaki para pecinta. Hanya para pecinta yang dapat lepas dari perangkap dunia dan akhirat. Hanya hati yang dipenuhi dengan cinta yang dapat menjangkau langit tertinggi. Bunga mawar kemuliaan hanya dapat bersemi di dalam hati para pecinta.

15

Segalanya yang kau lihat mempunyai akarnya di dalam dunia yang tak terlihat. Bentuk akan berubah, namun intisarinya tetaplah sama.

16

Ketika sedih, aku bersinar bagaikan bintang pagi. Ketika patah hati, hakekatku justru tersingkap sendiri. Ketika aku diam dan tenang seperti bumi, tangisku bagaikan guntur yang menggigilkan surga di langit tertinggi.

17

Hati manusia selalu terbuka dan dapat menerima segalanya: semua yang baik dan buruk menjadi bagian dari Sufi.

18

Aku kehilangan duniaku, ketenaranku, dan pikiranku. Ketika matahari terbit, maka semua bayang-bayang lenyap. Aku berlari mendahului bayang-bayang tubuhku yang lenyap saat aku berlari. Namun, cahaya matahari itu berlari mendahuluiku dan memburuku, hingga aku pun terjatuh dan bersujud pasrah ditelan samudera kilau-Nya yang mempesona.

19

Aku ingin melihat wajah-Mu pada sebatang pohon, pada matahari pagi, dan pada langit yang tanpa warna.

20

Karena Cinta segalanya menjadi ada. Dan hanya karena Cinta pula, maka ketiadaan nampak sebagai keberadaan.

21

Badan ini hanyalah suatu cermin surga. Energinya membuat para malaikat cemburu. Kemurniannya membuat malaikat Seraphim terkejut. Dan Iblis yang berdiam di urat-urat syarafmu pun menggigil takut.

22

Kau lebih mahal dibanding surga dan bumi. Apa yang bisa kukatakan lagi? Kau tak mengetahui bahwa selama ini segala yang berharga telah menjadi milikmu. Janganlah menjual dirimu dengan harga murah, sesungguhnya dirimu sangatlah mahal di mata Tuhan.

23

Cintaku pada-Nya adalah hakikat jiwaku. Hidupku adalah gelora yang selalu merindukan-Nya. Aku hidup seperti seorang gipsi pengembara, aku tak pernah menetap di tempat yang sama, namun setiap malam aku selalu bernyanyi dan menari ditemani bintang-bintang di bawah langit yang sama.

24

Kematianku adalah perkawinanku dengan keabadian.

25

Meski aku terbakar habis, namun aku tetap tertawa, karena abuku masih tetap hidup! Aku telah mati ribuan kali: namun abuku selalu menari dan lahir kembali dengan ribuan wajah baru.

26

Di gurun pasir tanpa batas, aku kehilangan jiwaku, dan menemukan bunga mawar ini.

27

Aku telah melihat wajah mulia Sang Raja. Dia adalah mata dan matahari surga. Dia adalah teman seperjalanan dan penyembuh semua mahluk. Dia adalah jiwa dan alam semesta yang melahirkan jiwa-jiwa. Dia menganugerahkan kebijaksanaan pada kebijaksanaan, kemurnian pada kemurnian. Dia adalah tikar sembahyang bagi jiwa orang-orang suci. Setiap atom di tubuhku berlompatan sambil menangis dan berkata: “Terpujilah Tuhan.”

28

Apapun juga yang mereka katakan atau pikirkan, aku tetap ada di dalam Kau, karena aku adalah Kau. Tak seorang pun dapat memahami hal ini, sampai ia mampu melampaui pikirannya.

29

Jika kau dapat bertemu dengan Jatidirimu meski hanya sekali, maka rahasia dari segala rahasia akan terbuka bagimu. Wajah dari Yang Maha Tersembunyi, yang ada di luar alam semesta ini, akan nampak pada cermin persepsimu.

30

Setiap penglihatan tentang keindahan akan lenyap. Setiap perkataan yang manis akan memudar. Namun, janganlah kau berputus asa, karena mereka semua datang dari sumber yang sama, dari Keabadian. Masukilah Keabadian itu, maka kau akan melihat segala sesuatu tumbuh dan berkembang, memberi hidup baru dan kegembiraan baru bagimu.

31

Ayat-ayat Tuhan itu tersimpan di hati langit yang paling rahasia. Suatu hari, seperti hujan, ayat-ayat Tuhan itu akan jatuh dan menyebar, sehingga misteri Keilahian akan tumbuh menghijau di seluruh dunia.

32

Jika kau berputar mengelilingi matahari, maka kau pun akan menjadi matahari. Jika kau berputar mengelilingi seorang Guru, maka kau pun akan bersatu dengan-Nya. Kau akan menjadi sebutir permata, jika kau menari mengelilingi-Ku. Dan kau akan berkelip seperti emas, jika kau menari mengelilingi-Nya.

33

Kau hanya memerlukan aroma anggur, karena makrifat akan menyala dengan sendirinya dari kesunyian hatimu setelah mencium aroma anggur itu, seperti juga nyala api akan tersilap dan berkobar dari aroma anggur! Bayangkan jika kau adalah anggur itu sendiri.

34

Sufi adalah seorang lelaki atau seorang perempuan yang telah patah hati terhadap dunia.

35

Kekasih, beri aku kesempatan untuk selalu mengetahui bagaimana cara menyambut-Mu, dan sulutkanlah obor di tangan-Mu agar membakar habis rumah ke-ego-an di dalam diriku.

36

Sembunyikan rahasia-Ku di dalam harta karun jiwamu. Sembunyikan perasaan ekstase itu di dalam dirimu. Jika kau menemukan Aku, maka sembunyikan Aku di dalam hatimu. Sadarilah kemabukan ini sebagai Kebenaran Mutlak!

37

Ingatlah bahwa Nabi Muhammad pernah berkata: “Satu penglihatan tentang-Nya adalah suatu berkah yang tak terhingga.” Setiap daun dari suatu pohon membawa suatu firman dari dunia yang tak terlihat. Lihatlah, tiap-tiap daun yang jatuh ke tanah sebagai suatu berkah dari-Nya. Segala sesuatu di alam ini senantiasa menari dalam harmoni, bernyanyi tanpa lidah, dan mendengar tanpa telinga, ya, semua itu adalah berkah yang tak terhingga dari-Nya.

38

Isi aku dengan anggur dari sunyi-Mu, biarkan anggur itu merendam pori-poriku, hingga Keindahan dari Yang Maha Agung akan terungkap bagiku. Inilah arti berkah bagiku!

39

Jika kau mendefinisikan dan membatasi “Aku” dengan berbagai konsepmu, maka kau akan kelaparan dengan dirimu sendiri. Lalu “Aku” pun akan jatuh ke dalam suatu kotak yang terbuat dari kata-kata, dan kotak itu adalah peti mayatmu sendiri.

40

Aku tidak tahu siapa sebenarnya “Aku”. Tetapi, ketika aku berjalan ke dalam diriku sendiri, maka aku pun terkejut: ternyata “Aku” adalah suara milik-Mu, gema yang terpantul dari “Dinding-Keilahian”.

41

Jatidiri kita adalah Cahaya. Cinta-Ilahi adalah Matahari-Keagungan. Sinar-Nya adalah firman. Dan mahluk adalah bayang-bayang-Nya.

42

Perkecillah dirimu, maka kau akan tumbuh lebih besar dari dunia. Tiadakan dirimu, maka Jatidirimu akan terungkap tanpa kata-kata.

43

Ketika kami mati, jangan cari pusara kami di bumi. Tetapi, temukan di dalam hati para pecinta.

44

Ketika pikiran dilampaui, maka keindahan cinta pun datang menghampiri, berjalan dengan anggun, serta membawa secangkir anggur di tangannya. Ketika cinta dilampaui, maka Yang Maha Esa pun datang menghampiri – Ia adalah Zat yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata dan hanya bisa disebut sebagai “Itu”.

45

Setiap orang yang tinggal jauh dari sumber-Nya, dari Jatidirinya, maka ia akan selalu rindu untuk kembali ke masa ketika ia masih dipersatukan dengan-Nya.

46

Surga dibuat dari asap hati yang terbakar habis. Dan orang yang diberkahi oleh Tuhan adalah orang yang hatinya telah terbakar habis.

47

Awan-awan berada dalam keheningan meski penuh dengan berjuta kilat. Cinta akan memberi kelahiran baru bagi para filsuf berkepala batu. Jiwaku adalah ombak di dalam samudera kemuliaan-Mu. Dan di dalam keheningan: alam semesta beserta segala isinya tenggelam di dasar samudera kemuliaan-Mu.

48

Manusia ibarat suatu pesanggrahan. Setiap pagi selalu saja ada tamu baru yang datang: kegembiraan, kesedihan, ataupun keburukan; lalu kesadaran sesaat datang sebagai suatu pengunjung yang tak diduga. Sambut dan hibur mereka semua, sekalipun mereka semua hanya membawa dukacita. Sambut dan hibur mereka semua, sekalipun mereka semua dengan kasar menyapu dan mengosongkan isi rumahmu. Perlakukan setiap tamu dengan hormat, sebab mereka semua mungkin adalah para utusan Tuhan yang akan mengisi rumahmu dengan beberapa kesenangan baru. Jika kau bertemu dengan pikiran yang gelap, atau kedengkian, atau beberapa prasangka yang memalukan, maka tertawalah bersama mereka dan undanglah mereka masuk ke dalam rumahmu. Berterimakasihlah untuk setiap tamu yang datang ke rumahmu, sebab mereka telah dikirim oleh-Nya sebagai pemandumu.

49

Saat kau datang ke dunia ini, suatu tangga telah ditempatkan di depanmu, dan tangga itu akan mengantarmu kepada-Nya. Dari bumi ini, kau pun naik menjadi tumbuhan. Dari tumbuhan kau pun naik menjadi hewan. Setelah itu kau pun naik menjadi manusia – mahluk yang mewarisi pengetahuan melalui akal dan iman. Lihatlah, tubuhmu merupakan turunan dari debu, tetapi bagaimana bisa tubuhmu menjadi begitu sempurna? Lalu, mengapa kau takut dengan kematian? Ketika kau berhasil melampaui bentuk manusia ini, maka tak diragukan lagi kau akan menjadi malaikat dan membumbung melampaui lapisan-lapisan langit tertinggi. Tetapi, janganlah berhenti di sana, bahkan badan surgawimu itu akan tetap tumbuh menjadi tua, lampaui lagi surga itu dan melompatlah ke dalam “Samudera Kesadaran Yang Maha Luas”. Biarkan dirimu – yang bagaikan setetes air itu – menjelma menjadi seratus samudera. Tetapi, jangan berpikir bahwa hanya setetes air itulah yang telah menjelma menjadi samudera, sebab samudera juga telah menjelma menjadi setetes air.

50

Sssttt! Diamlah! Dengarkan suara dalam dirimu. Ingatlah firman pertama-Nya: “Kita melampaui setiap kata.”





Biodata Singkat Jalaluddin Rumi



Rumi – nama lengkapnya, Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al-Khattabi al-Bakhri – lahir di Balkh (Afghanistan sekarang) pada tanggal 30 September 1207. Para Orientalis di Barat mengakui Rumi sebagai penyair yang terbesar dari semua penyair mistik yang pernah ada dalam peradaban Islam. Dan para sufi di Timur Tengah mengakui bahwa karya-karyanya dianggap sebagai Al-Qur’an kedua karena kedalaman maknanya. Jalaluddin Rumi adalah pendiri “Tarekat Mevlevi” di Turki. Sebelum Perang Dunia II, pengikut Tarekat Mevlevi berjumlah 100.000 yang tersebar di seluruh Balkan, Afrika, dan Asia. Tidak ada penyair di dalam sejarah – tidak juga Shakespeare Atau Dante – yang secara nyata mempunyai dampak pada peradaban seperti yang dilakukan oleh Rumi. Dan tak ada puisi yang mampu membangkitkan ekstase mistik dan kebahagiaan kepada pembacanya seperti puisi-puisi yang ditulis oleh Rumi.



Rumi adalah satu pribadi di antara sedikit pribadi di bumi yang memiliki kesadaran universal – selain Ramakrishna, Aurobindo, dan Kabir – yang dihasilkan oleh agama, dan telah mewarnai kehidupan serta peradaban manusia dengan kemuliaan cinta. Maka, pada saat ini, ketika kita membutuhkan suatu inspirasi untuk mencintai dunia yang tengah terancam kehancuran, ketika kita sudah melupakan identitas Keilahian, kebahagiaan, serta tanggung jawab kemanusiaan kita, Rumi hadir sebagai seorang pemandu dan seorang saksi atas kemuliaan Tuhan serta keagungan jiwa manusia. Rumi hadir membawa esensi agama yaitu cinta yang universal. Bagi Rumi, cinta melebihi semua dogma agama, cinta hadir untuk memeluk keseluruhan ciptaan, cinta adalah hakekat agama yang mempersatukan seluruh umat manusia dalam cahaya Keilahian.http://www.blogsastra.com

Eksekusi Al Hallaj sebuah tragedi

Eksekusi Mati Al-Hallaj: Sebuah Tragedi

0
468
27 Maret 922 M. Syeikh Husein Manshur al-Hallaj, dibawa menuju tiang gantungan. Suasana senyap. Al-Hallaj berjalan tenang, diam. Abu al-Harits al-Sayyaf, sang algojo, melangkah gagah dengan wajah amat angkuh, mendekati al-Hallaj. Ia menampar pipinya dan memukul hidungnya begitu keras hingga darah mengaliri jubahnya. Al-Hallaj, kata para saksi, lalu sujud kepada Tuhan,sambil mengatakan :
اِلهِى اَصْبَحْتُ فِى دَارِ الرَّغَائِبِ أَنْظُرُ اِلَى الْعَجَائِبِ.
“Tuhanku, kini aku telah berada di Rumah Idaman. Aku melihat betapa banyak keindahan yang mengagumkan”.
Setelah itu ia berdo’a :
إِلهِى هَؤُلاَءِ عِبَادُكَ قَدِ اجْتَمَعُوا لِقَتْلِى تَعَصُّبًا لِدِينِكَ وَتَقَرُّبًا اِلَيْكَ, فَاغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ لَوْ كَشَفْتَ لَهُمْ مَا كَشَفْتَ لِى لَمَا فَعَلُوا مَا فَعَلُوا. وَلَوْ سَتَرْتَ عَنِّى مَا سَتَرْتَ عَنْهُمْ لَمَا ابْتُلِيْتُ مَا ابْتُلِيْتُ. فَلَكَ الْحَمْدُ فِيْمَا تَفْعَلُ وَلَكَ الْحَمْدُ فِيْمَا تُرِيْدُ.
“O, Tuhanku, mereka adalah hamba-hamba-Mu. Mereka telah berkumpul untuk membunuhku, karena semangat yang menggebu-gebu untuk membela agama-Mu dan ingin dekat dengan-Mu. Ampunilah mereka. Andai saja Engkau singkapkan kepada mereka seperti apa yang telah Engkau singkapkan kepadaku, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Andai saja Engkau membutakan mata-hatiku, seperti membutakan mata-hati mereka, niscaya aku tidak akan mengalami cobaan seperti ini. Hanya bagi-Mu lah segala puji atas apa yang Engkau putuskan, dan hanya bagi-Mu lah segala puji atas apa yang Engkau kehendaki”.
Ada beragam tanggapan orang sekitar alasan eksekusi terhadap al-Hallaj. Sejumlah ahli fiqh mengaggap vonis mati baginya adalah karena dia menentang ibadah Haji (abthala al Hajj). Menurut mereka al-Hallaj tidak mewajibkan kaum muslimin melaksanakan ibadah hajinya di Makkah, melainkan cukup di hati saja. Sebagian orang berpendapat bahwa hukuman itu sebagai konsekuensi atas pandangan teologisnya yang “nyleneh”. Al-Hallaj memproklamirkan pandangan “pantheistik”nya, “Wahdah al-Wujud”, Kesatuan Eksistensi atau kemanunggalan “Kawula-Gusti”. Ucapannya yang sangat populer : “Ana al-Haqq””, “Akulah Kebenaran”, telah mengguncang hati dan pikiran keagamaan jagat-raya manusia.
Sebagian yang lain berpendapat bahwa hukuman terhadap al-Hallaj lebih disebabkan karena motiv politik. Dia dituduh sebagai otak atau tokoh yang berada di belakang gerakan politik Qaramitah, kelompok keagamaan yang memberontak dan berusaha menggulingkan kekuasaan yang sah. Pendapat ini memperlihatkan kepada kita bahwa pembunuhan atas al-Hallaj tidak karena pandangan-pandangan sufismenya, tetapi karena politik. Al-Hallaj melawan kekuasaan yang tiranik. Wallahu A’lam.http://huseinmuhammad.net

Maqashid Asy Syari`ah

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Didalam khazanah intelektual muslim, tercatat beragam keputusan atas berbagai kasus hukum dikalangan umat Islam yang diputuskan dengan menggunkan pertimbangan akal. Dalam berbagai situasi pada zaman Rasulullah hal itu juga terjadi baik dalam situasi normal maupun darurat. Dalam rekaman sabda Rasulullah SAW yang terhimpun dalam berbagai kitab hadis tidak sulit untuk menemukan keputusan-keputusan yang berdasarkan sifatnya dilatarbelakangi pertimbangan rasional. Rekaman peristiwa-peristiwa itulah yang mendasari model-model analisis substansif hukum Islam, semacam analisis istihsan, maslahah, sadd zari`ah, dan lain sebagainya yang dikonsederasi oleh nilai-nilai maqashid syari`ah.
Islam merupakan ad-din yang komprehensif lagi progresif di mana dalam menciptakan  syariat, Allah s.w.t. tidak melakukannya dengan sewenang-wenangnya melainkan telah  menggariskan beberapa objektif sama ada secara umum ataupun khusus agar manusia dapat meneruskan kehidupan dengan harmonis. 
Maqasid syariah merupakan ilmu yang mengalami perkembangan sebagaimana ilmu yang lain. Ilmu ini adalah asas kepada segala perlakuan mukallaf dan menjadi dynamo yang menggerakkan aktivitis manusia dalam rangka merealisasikan kepentingan umum yaitu memberikan kemanfaatan dan menghindarkan kerusakan bagi mencapai keredhaan Allah

B.      Rumusan Masalah
1.       Apakah Pengertian maqashid syari`ah ?
2.       apakah tujuan sebenarnya dari adanya syari`at ?
3.       Apa sajakah ruang lingkup maslahah dan tingkatannya ?









BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian Maqasid al Syariah[1]
Perkataan maqasid dari sudut bahasa merupakan jamak kepada perkataan maqsad, iaitu masdar mimiy yang diambil dari kata kerja (  قصد ) yang  membawa maksud pegangan,puncak, sasaran, kelurusan, keadilan dan kesederhanaan. Dengan lain perkataan, istilah ini merujuk kepada maksud objektif yang membawa erti berasaskan kenyataan atau fakta sebenarnya.
Syariah berasal daripada perkataan syara’a (  شرع ) yang bermaksud sumber air yang tidak pernah putus dan terus yang tidak pernah putus dan terus mengalir, memulai sesuatu pekerjaan dan juga menjelaskan, menerangkan serta menunjukkan jalan. Dari segi istilah, ia merangkumi keseluruhan apa yang diturunkan oleh Allah SWT kepada umat manusia melalui Rasul-Nya nabi Muhammad SAW
Maqasid syariah merupakan istilah yang mempunyai sejarah perkembangannya yang tersendiri. Sama seperti perkembangan ilmu-ilmu Islam yang lain, seperti ilmu fiqh dan usul fiqh. Istilah ini mengalami perkembangan dari satu periode ke satu periode di mana pada peringkat awalnya ia tidak menonjol sebagai satu bidang yang tersendiri sehingga pada zaman kepuncaknya di zaman Shatibi, ilmu ini masih juga belum dikonsepsikan dengan satu uraian yang lengkap. Namun, ulama mutaakhirin memberanikan diri untuk memberikan konsep maqasid syariah serta uraiannya dengan panjang lebar di samping menjadikannya sebagai satu disiplin ilmu yang tersusun.
Sheikh Ibn ‘Asyur (1393 H)7 mendefinisikan maqasid ‘ammah sebagai pengertian-pengertian dan hikmah-hikmah yang dititikberatkan dalam semua atau sebahagian besar perundangan Islam. Ia tidak hanya dikhususkan kepada hukum hukum tertentu sahaja
Dari segi pengertian Syarak, para ulama usul fiqh telah mentakrifkan bahwa maqasid al-syariah adalah merupakan makna dan tujuan yang dikehendaki syara`dalam mensyariatkan sesuatu hukum bagi kemaslahatan umat manusia.

2.      Tujuan adanya syari`at
Menurut imam Syatibi dalam kitabnya Al muwafaqat ada beberapa tujuan diciptakannya syariat ;
1.      Qasdu al Syari` fi wadl`i al syari`ah jalbul mashalih wa dar ul mafsid ( Allah menurunkan syari`at tiada lain untuk mengambil kemaslahatan dan menghindari kemadlaratan )
2.      Qasdu al Syari` fi wadl`i al syari`ah lil ifham (maksud Syari` dalam menetapkan syariah ini adalah agar dapat dipahami)
3.      Qasdu as Syari` fi wadl`i al Syari`ah li al taklif bi muqtadlaha (maksud Syari` dalam menetakan hukum untuk dilaksankan sesuai dengan tuntutannya)
4.      Qasdu al Syari fi dukhil al mukallaf tahta ahkam al syari`ah ( maksud Syari` dalam menetapkan hukum untuk mengeluarkan mukallaf dari tuntutan dan keinginan hawa nafsunya sehingga menjadi hamba yang berusaha bukan yang terpaksa)[2]
Jadi tujuan sesungguhnya diadakannya syariat oleh Syari` yaitu terciptanya kemaslahatan untuk manusia itu sendiri. setiap perintah Allah mengandung kemaslahatan untuk manusia, baik dijelaskan sendiri alasannya oleh Allah atau tidak. Maslahah secara sederhana diartikan dengan sesuatu yang baik dan dapat diterima oleh akal sehat. Diterima akal, mengandung arti bahwa akal itu dapat mengetahui dengan jelas kenapa begitu.
Misalnya, tujuan disyariatkan qishash adalah untuk menjaga kehidupan manusia, sebagimana dijelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 179
  ولكم فى القصاص حياة يأولى الألباب
“ Dan dalam qisash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa “
Tujuan shalat untuk mencegah mencegah perbuatan keji dan munkar, seperti dijelaskan dalam surat Al Ankabut ayat : 45
إن الصلاة تنه عن الفحشاء والمنكر
“ Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar “[3]



3.      Ruang lingkup Maslahah dan Tingkatannya  
Para ahli ushul sepakat bahwa syariat islam bertuajuan untuk memelihara lima hal, yakni :[4]
1.      Agama
Memelihara agama menempati urutan pertama karena keseluruhan ajaran syariat mengarahkan manusia berbuat sesuai dengan kehendak dan keridaan Allah. Dan pada hakikatnya manusia diciptakan untuk beribadah.
2.      Jiwa
Pemeliharaan atas jiwa dijadikan esensial karena hanya orang yang berjiwa yang mungkin melaksanakan seluruh ketentuan agama.
3.      Akal
Akal dijadikan esensial karena hanya pikiran sehat dan jrnih saja yang dapat memenuhi tuntutan syariat untuk memahami ayat-ayat Allah, sebagaimana Allah memberi kalimat perintah afala tatafakkarun, afala tatadzakkarun afala ta`qilun dll.
4.      Keturunan
Kemaslahatan dunia dan ukhrawi ini bertujuan untuk menjamin kelangsungan hidup manusia dari generasi ke generasi. Syariat yang hanya berlaku pada satu generasi saja tidak punya makna lantaran punahnya genersi manusia. Oleh karena itu akal menjadi esensial. 
5.      Harta
Syariat dapat terlaksana dengan baik jika mausia mempunyai kehidupan yang sejahtera. 
Kelima hal tersebut tersebut dinamakan dengan kulliyah al khams atau al qawaid al kulliyah. 
Untuk kepentingan menetapkan hukum, kelima tujuan pokok tersebut dapat dikategorikan menjadi tiga tingkatan yaitu :[5]
1.      Dharuriyyat (primer), yaitu memelihara kebutuhan yang bersifat esensial bagi kehidupan manusia, kebutuhan yang esensial itu adalah memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Dengan batas jangan sampai terancam. Tidak terpenuhinya atau tidak terpeliharanya kebutuhan kebutuhan itu akan berakibat terancamnya eksistensi kelima tujuan pokok itu.
2.      Hajiyat (sekunder), yaitu kebutuhan yang tidak bersifat esensial, melainkan kebutuhan yang dapat menghindarkan manusia dari kesuitan dalam hidupnya. Tidak terpenuhinya kelompok ini tidak akan menancam eksistensi kelima pokok diatas, tetapi akan menimbulkan kesulitan bagi mukallaf. Kelompok ini erat kaitannya dengan rukhshoh.
3.      Tahsiniyat (tersier), yaitu kebutuhan yang menunjang peningkatan martabat seseorang dalam masyarakat dan dihadapan Tuhan-nya, sesuai dengan kepatuhan.
Pada hakikatnya kelima tujuan pokok diatas, baik kelompok dharuriyat, hajiyat, dan tahsiniyat dimaksudkan untuk memelihara atau mewujudkan kelima pokok seperti yang disebutkan tadi diatas, hanya saja peringkat kepentingan satu sama lain berbeda.
Gambaran kelima pokok kemaslahatan dengan peringkatnya masing masing
1.      Memelihara Agama
a.       Dlaruriyat : melaksanakan shalat lima waktu , kalau shalat liwa waktu diabaikan, maka akan terancam eksistensi agama
b.      Hajiyat : melaksnakan ketentuan agama dengan mekasud menghindari kesulitan, seperti shalat jama` dan qashar
c.       Tahsiniyat : mengikuti petunjuk agama guna menjunjung tinggi martabat manusia dan pemenuhan pelaksnan kewajiban, seperti menutup aurat baik didalam maupun diluar shalat dan membersihkan badan, pakaian dan tempat.
2.      Memelihara jiwa
a.       Dlaruriyat : memenuhi kebutuhan pokok berupa makanan atau mempertahankan hidup. Kalau diabaikan akan terancama eksisitensi hidup.
b.      Hajiyat : diperbolehkan berburu binatan dan memakan makanan yang lezat dan halal. Kalau diabaikan tidak mengancam eksistensi hidup tapi hanya mempersulit hidup
c.       Tahsiniyat : ditetapkannya cara mnum dan makan. Kegiatan ini hanya berhubungan dengan kesopanan dan etika.
3.      Memelihara Akal
a.       Dlaruriyat : diharamkan meminum khamr atau narkoba, jika didindahlkan maka akan terancam eksistensi akal
b.      Hajiyat      : dianjurkannya menuntut ilmu pengetahuan ,
c.       Tahsiniyat  : Menghidarkan diri dari menghayal dan mendengarkan sesuatu yang tidak berfaidah
4.      Memlihara keturunan
a.       Dlaruriyat  : DIsyariatkan nikah dan dilarang berzina 
b.      Hajiyat      : ditetapkannya ketentuan menyebutkan mahar bagi suami pada waktu akan nikah dan diberikan hal talak baginya.
c.       Tahsiniyat  :  disyariatkan khitbah atau walimah dalam pernikahan   
5.      Memelihara Harta
a.       Dlaruriyat  : tentang tata cara pemilikan harta dan larangan mengambil harta orang lain dengan cara tidak sah.
b.      Hajiyat      : jual beli dengan cara salam.
c.       Tahsiniyat  :  ketentuan tentang menghindarkan diri dari pengecohan atau penipuan


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Maqasid Syariah berasal dari dua kata Bahasa arab yaitu maqasid yang berasal dari kata “ qasada” yang berarti  membawa maksud pegangan,puncak, sasaran, kelurusan, keadilan dan kesederhanaan. Dengan lain perkataan, istilah ini merujuk kepada maksud objektif yang membawa arti berasaskan kenyataan atau fakta sebenarnya. Dan syariah yang berasal dari kata “syara`a” yang berarti sumber air yang tidak pernah putus dan terus yang tidak pernah putus dan terus mengalir, memulai sesuatu pekerjaan dan juga menjelaskan, menerangkan serta menunjukkan jalan. Dari segi istilah, ia merangkumi keseluruhan apa yang diturunkan oleh Allah SWT kepada umat manusia melalui Rasul-Nya nabi Muhammad SAW
Sedangkan menurut istilah berarti merupakan makna dan tujuan yang dikehendaki syara`dalam mensyariatkan sesuatu hukum bagi kemaslahatan umat manusia.
Tujuan syari` menciptakan syariat :  dar`ul mafasid wa jalbul mashalih, lil ifham, li ttaklif dan mengeluarkan mukallaf dari keinginan hawa nafsunya. 
Ruang lingkup maqasid syariah ada lima Yaitu : agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta
Tingkatan maslahah : dlaruriah, hajiah dan tahsiniah. 


Daftar Pustaka :
1.      Ahmad hafidz, Meretas Nalar Syari`ah, Sukset Offset
2.      Dr. Mardani, Ushul Fiqh, PT. Raja Grafindo
3.      Hamka haq, PT. Gelora Aksara Pratama, 2007
https://www.academia.edu/4354113/Objektif_Syariah_Maqasid_al-Syariah_Konsep_Dan_Kedudukannya_Sebagai_Teori_Seismograf_Hukum_Islam?auto=download


[2] Ahmad hafidz, Meretas Nalar Syari`ah, Sukset Offset, hlm 180
[3] Dr. Mardani, Ushul Fiqh, PT. Raja Grafindo, Hlm 334-335
[4] Hamka haq, PT. Gelora Aksara Pratama, 2007 hlm 95 
[5] Dr. Mardani, Ushul Fiqh, PT. Raja Grafindo, Hlm 334-335